TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

SUNAN GIRI,,,,,,,,,

Perkawinan Sayyid Ibrahim bin Sayyid Hussein Jamadil Kubra dengan Putri Jeumpa di Pasai bernama Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang menjadi Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai, yaitu Maulana Sayyid Rahmatillah yang di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Yang satunya bernama Maulana Sayyid Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Beliau adalah juga sekaligus ayahanda dari Raden Paku atau di tanah Jawa di kenal dengan Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo yang sangat berpengaruh di tanah Jawa.

 Jadi Sunan Giri adalah anak keponakan dari Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel yang menjadi pemimpin dan penggerak utama gerakan dakwah Islamiyah yang terkenal dengan Wali Songo dan telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak yang meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Nama asli Sunan Giri adalah Maulana Ainul Yakin, yang lahir dan dibesarkan di Kerajaan Pasai, karena ayahandanya Maulana Ishaq adalah tokoh dan Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai. Namun menurut Babat Tanah Jawi, Maulana Ainul Yakin atau Sunan Giri lahir di tanah Jawa dari perkawinan Maulana Ishaq dengan Puteri Raja Blambangan. Walaupun beliau lahir di Jawa, namun ayahanda beliau, Maulana Ishaq adalah bagian dari Kerajaan Pasai yang tengah mengatur strategi menaklukkan Kerajaan Hindu-Majapahit dan mempersiapkan berdirinya Kerajaan Islam di Jawa.

Adapun silsilah keturunan Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) adalah : Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin  ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.

Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin mendapat pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh pamannya Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel) di Ampel Denta Surabaya bersama-sama dengan para calon wali  dan sultan di tanah Jawa. Menurut beberapa catatan sejarah, pesantren Ampel Denta bukan hanya mengajarkan pelajaran agama saja kepada para santrinya, tapi termasuk ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu perang, ilmu pemerintahan, bahkan sampai kepada ilmu batin yang berlandaskan pada ajaran Islam, yang juga dikenal dengan ilmu tasawwuf atau ilmu mistik. Karena para wali akan berhadapan dengan pemuka-pemuka Hindu yang terkenal dengan ilmu sihirnya. Di tanah Jawa ilmu ini dikenal dengan ilmu karamah yang akan didapatkan oleh para wali untuk mengalahkan ilmu sihir, sebagaimana Nabi Musa as mengalahkan ahli sihirnya Fir’aun. Itulah sebabnya setiap wali memiliki karamah sendiri-sendiri yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada mereka.

Menurut Babat Tanah Jawi, setelah Maulana Ainul Yakin belajar di Ampel Denta pernah kembali ke negeri Pasai untuk melanjutkan pelajaran keislaman tingkat tingginya kepada ayahandanya Maulana Ishaq dan beberapa Maulana dan Ulama yang berada di Kerajaan Islam Pasai. Setelah beberapa tahun belajar di lembaga pendidikan Islam Pasai, beliau berniat untuk melanjutkan pelajaran ke Mekkah, namun disarankan ayahandanya yang juga guru serta ulama terkemuka Kerajaan Pasai, Maulana Ishaq agar segera pulang kembali ke tanah Jawa. Maka setelah mendapat bekal pengetahuan yang memadai, Maulana Ainul Yakin kembali ke Ampel Denta untuk membantu perjuangan pamannya Maulana Rahmatillah dalam menggerakkan dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa yang masih kental berpegang kepada ajaran Hindu. Dan sejak saat itu Maulana Ainul Yakin belajar dan mengajar kembali di Ampel Denta Surabaya.

Setelah mendapat pendidikan dan bekal pengetahuan yang cukup di pesantren Ampel Denta, maka Maulana Rahmatillah mengirim keponakan sekaligus muridnya, Maulana Ainul Yakin ke wilayah yang berdekatan dengan Kerajaan Majapahit, di suatu tempat yang bernama Giri. Maka sejak saat itu Maulana Ainul Yakin, anak daripada Maulana Ishaq salah seorang ulama besar Kerajaan Pasai, mendapat gelar sebagai Sunan Giri. Beliau mengajar dan mengembangkan ajaran Islam kepada penduduk yang masih banyak memeluk agama Hindu. Dakwahnya seringkali dihalang-halangi oleh para pengikut Hindu yang didukung oleh Kerajaan Majapahit ataupun lainnya. Itulah sebabnya para wali senantiasa memusatkan perhatian agar segera mendirikan sebuah kerajaan Islam sebagai patron dakwah Islamiyah di tanah Jawa.

Sunan Giri termasuk anggota Wali Songo yang berperan aktif menggerakkan dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa, sehingga pengikutnya sangat banyak dan memiliki pengaruh luas yang membuat Prabu Brawijaya Maha Raja Majapahit bimbang. Dalam buku Babat Tanah Jawi diceritakan sebuah kisah tentang ketakutan Raja Majapahit terhadap Sunan Giri dalam sebuah judul : Runtuhnya Majapahit.

Sang Raja Brawijaya mendengar kabar, bahwa banyak orang takluk kepada Sunan Giri. Patih Gajah Mada (?) diutus mendatangi Sunan Giri. Orang-orang di sana geger. Waktu itu Sunan Giri sedang menulis, terkejut mendengar berita didatangi musuh, bermaksud merusak Giri. Alat tulis yang digunakan untuk menulis lalu dibuang serta berdoa kepada Allah. Kalam (alat tulis) yang dibuang tadi lalu menjadi keris dan dapat mengamuk sendiri. Orang-orang dari Majapahit banyak yang tewas. Sisanya lari pulang kembali ke Majapahit.

Kebenaran cerita Babad ini, hanya Allah yang tahu. Namun tidak diragukan bahwa Sunan Giri adalah salah seorang Wali Allah yang berjuang menegakkan Islam di tengah-tengah masyarakat mayoritas Hindu yang didukung oleh sebuah Kerajaan besar dan kuat dengan tentara yang banyak. Persis seperti ketika Nabi Musa as menghadapi Fir’aun. Maka pada saat seperti itu karamah dan bantuan Allah akan turun kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Namun Sang Sunan dengan gerakan Wali Songo bukan hanya sibuk berdakwah dan berdoa saja, tapi bahkan beliau juga menjadi panglima perang yang gagah perkasa dalam melawan tentara-tentara Hindu Majapahit ataupun Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya seperti Kerajaan Daha, Blambangan dan Pajang.

Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka Sunan Ampel bersama dengan para Wali, termasuk Sunan Giri mempersiapkan pendirian sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa. Daerah yang dipilih sebagai pusat Kerajaan Islam adalah di Demak Bintaro, sebuah tanah subur di sebelah barat Surabaya. Maka atas dukungan para Raden dan masyarakat Islam di seluruh tanah Jawa, Wali Songo memproklamirkan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang dipimpin Raden Fatah pada tahun 1481 M. Sejak saat itu dakwah Islamiyah di tanah Jawa sudah memiliki pelindung yang kuat, sehingga para juru dakwah dan ulama dengan bebas dapat menjalankan misi pengembangan agamanya. Demikian pula Kerajaan Demak dengan dukungan dari para wali telah mengadakan ekspansi besar-besaran untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu lainnya di tanah Jawa sehingga agama Islam tersebar luas.

Prestasi terbesar Kerajaan Islam Demak yang sekaligus merupakan jaringan dari Kerajaan Islam Pasai adalah keberhasilannya meruntuhkan Kerajaan Majapahit sebagai patron terbesar agama Hindu. Kehadiran dan perkembangan Kerajaan Demak yang mendapat dukungan dari para Wali Songo yang dipimpin Sunan Ampel (Maulana Rahmatillah) telah menimbulkan perpecahan di kalangan Kerajaan Majapahit, yang akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dengan mudah dapat ditaklukkan oleh kekuatan Demak. Selanjutnya Demak menggantikan peranan Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan yang menguasai tanah Jawa, namun dengan berdasarkan ajaran Islam.

Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishaq adalah seorang Wali dan Ulama Ahlul Bayt yang mengikuti tradisi nenek moyang mereka dalam menyebarkan agama Islam walau sampai ke hujung dunia sekalipun. Tradisi Ahlul Bayt yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan besar Islam di seluruh dunia, termasuk di Aceh seperti Kerajaan Jeumpa yang didirikan Shahrianshah Salman ataupun Kerajaan Perlak oleh Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah. Tradisi yang telah melahirkan pengorbanan Sayyidina Husein dalam menentang kezaliman penguasa dan menegakkan kebenaran Islam. Tradisi pengorbanan untuk kepentingan Islam dan ummatnya yang terus mengalir kepada generasi sesudahnya, sebagai garda terdepan Islam sebagaimana disebutkan sebuah Hadits riwayat Muslim: Rasulullah saw bersabda :Berpegangteguhlah kepada Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan itrah-ku (keturunanku), niscaya engkau tidak akan tersesat selamanya.

Perintah agama inilah yang telah mendorong Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) dan juga para wali dan ulama ahlul bayt lainnya melanglang buana, meninggalkan tanah leluhurnya, baik generasi awal di tanah Arab ataupun tanah Persia dan India sehingga mereka sampai di bumi Aceh, termasuk di Kerajaan Islam Pasai. Generasi selanjutnya, seperti Maulana Rahmatillah dan Maulana Ainul Yakin dituntut pula untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Pasai yang sudah maju dan makmur menuju tanah Jawa yang penuh dengan kekafiran dan kemusyrikan. Namun tugas agama yang mereka emban untuk menyelamatkan umat manusia telah mendorong mereka berhijrah ke tanah Jawa mengembangkan ajaran Islam. Inilah jalan hidup dan perjuangan yang telah mereka warisi turun termurun sebagai kewajiban agama yang wajib ditegakkan.

Perjuangan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh Sunan Giri lebih mudah dan leluasa jika dibandingkan dengan para pendahulunya seperti saudara kakeknya Maulana Malik Ibrahim ataupun pamannya Maulana Rahmatillah yang telah merintis Islamisasi di tanah Jawa. Karena pada zaman Sunan Giri, Kerajaan Islam Demak sudah ada yang menjadi patron dakwah Islamiyah, yang akan memudahkan langkah perjuangannya menyebarkan ajaran Islam. Demikian pula masyarakat Jawa sudah banyak yang memeluk agama Islam. Selanjutnya Maulana Ainul Yakin mengembangkan kota Giri sebagai sebuah pusat pendidikan dan dakwah Islamiyah yang cukup maju di Jawa sebagai kelanjutan dan jaringan perjuangan para pendahulunya di pesantren Ampel Denta Surabaya ataupun kelanjutan dari misi Kerajaan Islam Pasai sebagai penaung utama gerakan Islamisasi di seluruh Nusantara.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Sunan Giri adalah seorang Wali yang memiliki banyak sekali karamah dan keutamaan sehingga masyarakat yang tadinya beragama Hindu berbondong-bondong masuk Islam. Bahkan setelah beliau wafatpun karamahnya masih tetap ada sebagaimana dikisahkan dalam Babat Tanah Jawi;

Sesudah beberapa waktu lamanya, Sunan Giri meninggal dunia…….. Prabu Brawijaya lalu memerintahkan kepada Gajah Mada (?) bersama para putranya untuk merebut Giri. Sunan Prapen (cucu Sunan Giri) menghadapi bala tentara Majapahit itu, tetapi kalah….. Putra Mahkota Majapahit pergi ke makam sunan yang sudah lama meninggal. Lalu memerintahkan untuk membongkar makam itu. Bala-tentara Majapahit segera bekerja membongkar makam, tetapi mereka semua jatuh terkapar. Penjaga makam yang pincang diperintah untuk menggali….. Setelah tanah kuburan sudah dibongkar, papan tutup peti mati lalu dibuka. Lebah yang tak terkira banyaknya keluar dari dalam kuburan, naik memenuhi angkasa. Suaranya gemuruh seperti langit runtuh. Lebah-lebah itu lalu menyerang bala tentara Majapahit, mereka lari tunggang langgang mencari hidup. Sampai di kerajaan Majapahit, lebah itu masih mendesak. Prabu Brawijaya beserta bala tentaranya meninggalkan kota, mengungsi jauh karena tidak mampu menolak desakan lebah tersebut. Lebah itupun kembali ke asalnya dan Prabu Barawijaya  berjanji dan berniat tidak akan berbuat jahat lagi terhadap sunan di Giri.

1 Komentar

  1. Kalo bicara keturunan sunan giri, bisa kemana-mana…

    setidaknya ada 7 Pendiri Kraton di Nusantara, yang masih keturunan beliau, yaitu :

    1. Sultan Abdurrahman (Kesultanan Palembang)
    2. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)
    3. KGPAA Paku Alam I (Kraton Paku Alaman)
    4. KGPAA Mangkunegara I (Keraton Mangkunegara)
    5. Sunan Pakuwono II (Keraton Surakarta)
    6. Sultan Sepuh I (Kraton Kasepuhan Cirebon)
    7. Sultan Anom I (Kraton Kanoman Cirebon)

    Untuk silsilah selengkapnya, silahkan ke link berikut :

    Inilah SILSILAH 7 KRATON, melalui jalur SUNAN GIRI
    http://www.lintasberita.com/Entertainment/Selebriti/inilah-silsilah-7-kraton-melalui-jalur-sunan-giri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: