TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

Ummu Sulaim si penangis………

Nabi Muhammad bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan [di dalam surga]. Aku bertanya [kepada para malaikat], ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Dialah si penangis, putri Milhan.’” (Al-Hadits, riwayat Muslim)

Mengapa putri Milhan itu akan berada di surga, sedangkan dia gampang menangis? Apakah dia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim, manusia tegar yang layak masuk surga?

Rupanya, meskipun perasaannya sensitif dan gampang menangis, Ummu Sulaim itu “tidak meratap-ratap” sejak berbai’at (bersumpah setia) mengikuti kepemimpinan Nabi Muhammad.

Mengapa tidak meratap? Apakah sejak bai’at itu, Ummu Sulaim tidak pernah mengalami masa sulit, sehingga tiada alasan baginya untuk meratap-ratap? Marilah kita periksa sekelumit riwayat hidupnya.

Pada masa awal keislamannya, Ummu Sulaim adalah seorang janda dengan dayatarik yang masih mempesona. Tak sedikit pria yang jatuh hati kepadanya dan ingin menjadi suaminya. Seorang di antara mereka ialah Abu Thalhah, pria yang gagah, berbudi luhur, dermawan, dan kaya-raya. Bahkan, ia orang terkaya di Madinah pada waktu itu.

Dengan kekayaannya, Abu Thalhah mampu menawarkan maskawin yang lumayan besar. Namun, Ummu Sulaim menolak. Abu Thalhah penasaran. Ditawarkannya maskawin yang lebih besar. Tapi masih ditolak. Ditawarkannya lagi maskawin yang jauh lebih besar, tapi lagi-lagi ditolak.

Abu Thalhah kian penasaran. Apakah Ummu Sulaim membenci Abu Thalhah? Tidak. Ummu Sulaim suka banget alias cinta kepadanya! Lantas, kenapa lamarannya dia tolak?

Kepada Abu Thalhah, Ummu Sulaim menerangkan: “Demi Allah! Takkan ada wanita yang menolak lamaran pria seperti kau ini, wahai Abu Thalhah! Cuma sayangnya, kau masih kafir, sedangkan aku muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Namun kalau kau masuk Islam, maka itulah maskawinku, dan aku tidak meminta yang lain.”

Nah! Perhatikan! Bagi seorang wanita, apalagi yang berwatak sensitif dan gampang menangis, saat-saat menolak lamaran pria yang dia cintai tentulah masa yang sangat sulit. Sedikit-banyak, pastilah hatinya bergejolak. Namun, Ummu Sulaim tegar menghadapi rasa kehilangan pada dirinya.

Berkat ketegarannya itu, Abu Thalhah terdorong mempertimbangkan agama Islam dengan serius. Tak lama kemudian, setelah meyakini kebenarannya, ia pun masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim. (Masuk Islamnya Abu Thalhah adalah demi kebenaran dan bukan demi pernikahan. Buktinya, antara lain, sikap dan perilakunya sewaktu ikut berjuang di Perang Uhud. Ketika itu, banyak pasukan Islam yang lari meninggalkan Nabi saw.. Namun, Abu Thalhah tetap bersama beliau dan melindungi beliau. Dia berkata, “Wahai Nabiyullah! … Saya tidak ingin engkau menjadi sasaran anak panah musuh. Biar leher saya saja yang terkena, asalkan engkau selamat.”)

Begitulah buah manis dari ketegaran Ummu Sulaim si penangis. Hebat, kan?

Hebatnya lagi, dia pun sangat tegar sewaktu anaknya yang masih kecil (buah dari perkawinannya dengan Abu Thalhah) meninggal dunia setelah menderita sakit beberapa saat. Dengan tenang, Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya: “Jangan kalian ceritakan kepada Abu Thalhah perihal anaknya itu. Biar aku sendiri yang bercerita kepadanya.”

Malamnya, Abu Thalhah datang dan menanyakan keadaan anak mereka. “Sudah lebih tenang,” jawab Ummu Salim seraya menghidangkan santap malam kepadanya. Sesudah suaminya makan dan minum dengan puas, Ummu Sulaim pergi ke kamar dan bersolek secantik mungkin. Melihat itu, bangkitlah nafsu birahi Abu Thalhah, sehingga suami-istri ini bersetubuh.

Setelah melihat suaminya terpuaskan, Ummu Sulaim bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu jika ada seseorang meminjamkan barang miliknya kepada suatu keluarga, lalu ia memintanya kembali, apakah keluarga tersebut berhak menolak?”

“Tidak,” jawab suaminya.

“Kalau begitu,” ujar Ummu Sulaim, “tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu.” (Si anak sudah diminta kembali oleh pemiliknya, yaitu Tuhan.)

Mendengar berita duka ini, Abu Thalhah menjadi gusar. “Kau biarkan aku menikmati pelayananmu, lalu baru kau beritahu aku tentang anakku?”

Esoknya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian beliau menenangkan dia dengan memberinya harapan baru: “Mudah-mudahan Allah memberi berkah pada malam yang telah kalian lewati dengan manis itu.”

Ternyata, harapan beliau menjadi kenyataan. Kejadian malam itu menyebabkan Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang anak lagi. Akhirnya, si anak tumbuh hingga dewasa dan menjadi orang yang saleh.

Begitulah sebagian dari riwayat hidup Ummu Sulaim. Luar biasa, bukan? Meskipun berperasaan sensitif dan gampang menangis, dia tetap tegar dan terus gigih memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Pantesan, dalam pandangan Nabi, si penangis ini akan masuk surga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: