TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

Sunan Gunung Jati………

Setelah Sayyid Hussein Jamadil Kubra menyerahkan tugas dakwahnya kepada anaknya Sayyid Ibrahim (ayahanda Maulana Rahmatillah/Sunan Ampel) di Pasai, maka beliau berangkat berdakwah menuju barat untuk menahan serangan Kerajaan Budha Thailand (Siam) yang sangat berambisi menaklukkan Kerajaan Islam Pasai. Beliau berdakwah di wilayah yang sekarang dikenal dengan Senggora di wilayah Patani, Thailand selatan dan Kelantan di Malaysia. Beliau menikah dengan seorang puteri raja Patani dan mendapat anak bernama Maulana Ali Nurul Alam, yang menjadi ayahanda kepada Sayyid Abdullah atau dikenal dengan Wan Bo, Raja pertama Kerajaan Islam untuk wilayah Champa, Senggora, Patani dan Kelantan.

Menurut Babat Cirebon, ketika Sayyid Abdullah berada di Mekkah, bertemu dengan seorang puteri dari Kerajaan Pajajaran bernama Rara Santang putri Prabu Siliwangi, kemudian mereka menikah dan mempunyai anak yang sempat belajar ke Kerajaan Pasai dan memperdalam ilmu di Ampel Denta bernama Syarif Hidayatullah. Di tanah Jawa beliau dikenal dengan Raden Sunan Gunung Jati yang menjadi anggota dari Wali Songo. Beliau lahir sekitar tahun 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M

Adapun silsilah keturunan Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) adalah : Syarif Hidayatullah bin Sayyid Abdullah bin Maulana Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin  ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.

Sebagai seorang keturunan para Maulana dan Ulama Ahlul Bayt, Raden Syarif Hidayatullah mewarisi ketinggian pengetahuan keislaman yang telah dikembangkan nenek moyangnnya, sekaligus memiliki kecendrungan spiritual yang sangat tinggi, terutama dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar (Sayyid Husien al-Akbar) yang terkenal sebagai tokoh sufi di Nusantara. Ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi maupun Ampel Denta, beliau meneruskan pelajarannya kepada Maulana dan Ulama ke Kerajaan Islam Pasai sebagai tempat pengajian tinggi Islam di Nusantara saat itu. Para Ulama dan Maulana di Pasai sendiri pada saat itu adalah kerabat beliau juga. Selanjutnya beliau meneruskan ke Timur Tengah, terutama Mekkah dan Madinah. Ada juga yang menyebutkan beliau belajar sampai Mesir, Bagdad, Persia dan India. Dalam usia muda Syarif Hidayatullah sudah menguasai ilmu keislaman yang tinggi, sekaligus memiliki kekuatan spiritual (karamah).

Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana, saudara ibunda Syarif Hidayatullah, membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah saudara ibundanya wafat. Beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.

Sebagai seorang Maulana yang berpengaruh di sekitar Cirebon Jawa Barat, Syarif Hidayatullah yang sudah dikenal dengan Sunan Gunung Jati ikut bersama para Wali Songo memproklamasikan Kerajaan Islam Demak pada tahun 1481. Ada yang berpendapat bila Syarif Hidayatullah keturunan Syekh Maulana Akbar dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Cempa yang terkenal dengan nama Puteri Dharawati (Darwati) yang menjadi Permaisuri Maharaja Brawijaya V di Kerajaan Majapahit.

Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di seluruh tanah Jawa menggantikan peranan Majapahit yang sudah runtuh dan bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan dari Kerajaan Islam Demak. Hal ini terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan dalam Wali Sembilan. Agama Islam akan disebarkan di seluruh tanah  Jawa dengan Demak sebagai pusat pemerintahan. Pada saat yang sama para Wali tetap menjalin hubungan dengan Kerajaan Islam Pasai sebagai sentral gerakan Islamisasi di Asia Tenggara.

Dalam banyak riwayat dan babad, Syarif Hidayatullah dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik yang memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Beliau ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya. Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.

Setelah pendirian Kerajaan Islam Demak, antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit dalam perjuangan dakwah Islam di tanah Jawa, baik bagi Syarif Hidayatullah di Cirebon Jawa Barat maupun Raden Patah di Demak Jawa Timur. Karena pada masa ini proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Hindu Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Kerajaan Hindu Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur), yang diperparah oleh gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.

Awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Malaka dan Pasai, Raja Pakuan merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayatullah yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayatullah berperan membimbing Sultan Demak II Pati Unus, pengganti Raden Patah yang juga menantunya dalam pembentukan armada perang gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Jawa dengan misi utama mengusir Portugis di Malaka yang mengancam kedaulatan Kerajaan Islam Pasai. Namun armada perang ini dikalahkan oleh Portugis dan Pati Unus syahid di selat Malaka.

Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayatullah merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai dikenal dengan Fatahillah, untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Jawa. Ketika Raja Pakuan mengundang Portugis ke Sunda Kelapa, maka saatnya bagi tentara Muslim menyerang mereka. Maka pada tahun 1527 bulan Juni armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari tentara gabungan Islam. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.

Sebelum wafat, Syarif Hidayatullah menuntaskan tugas dakwahnya dengan menguasai Kerajaan Pajajaran, menawan Pakuan ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 atau setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayatullah memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang yang dikenal dengan suku Baduy.
Dari : Al-Ustadz Dr. Hilmy Bakar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: