TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

Bagaimanakah kabar cinta Anda hari ini…….???

Mencintai dan dicintai adalah hal yang diinginkan oleh setiap orang. Cinta antara orang tua dan anaknya, suami dengan istri, kakak dengan adik atau antara sesama manusia. Tak jarang beberapa benda-benda kesayang pun tak luput dari cinta kita, seperti mobil, baju, hp, komputer,dll. Semuanya manusiawi.

Namun kita perlu waspada ketika cinta kita kepada anak, istri, suami, kakak, adik dan orang tua bahkan harta benda telah membuat kita jauh atau bahkan lupa kepada Sang pemilik Cinta yang hakiki.

Saat kita menikah, kita telah dianggap telah melaksanakan 1/2 dari agama.
Artinya yang setengahnya lagi harus kita gapai bersama pasangan didalam mahligai rumah tangga. Idealnya, setelah menikah harusnya kualitas keimanan dan ibadah suami istri semakin meningkat dibandingkan saat sebelum menikah. Kalau dulu waktu masih singgle sholat fardhu sendiri, setelah menikah bisa berjama’ah bersama istri atau suami. Waktu masih sendiri susah sekali bangun malam untuk menjalankan sholat tahajud, setelah menikah ada suami atau istri yang akan membangunkan kita untuk mengajak tahajud bersama. Intinya yang dulu biasa dilakukan sendiri kini bisa dilakukan bersama dan tentunya ada yang berperan sebagai pengontrol atau pembimbing mungkin suami sebagai qowwam akan lebih berperan dalam membimbing istrinya dalam hal peningkatan kualitas ibadahnya. Mulai dari sholat bareng, tilawah bareng atau mengkaji al qur’an dan hadist bareng.

Harapannya dengan menikah maka makin terbentang luas ladang amal bagi kita, sehingga istilah menggenapkan dien untuk pernikahan itu benar adanya.

Namun tak jarang pula, saat kita mencitai makhluk atau benda membuat kita jauh atau bahkan melupakan Dia sang pemilik cinta. Misalnya, saat sebelum menikah sangat aktif dalam majelis dakwah, sholat selalu tepat waktu, tilawah setiap abis sholat magrib, tahajud pun tidak ketinggalan dan bahkan puasa sunnah senin kamis pun masih rajin dilakukan. Namun keadaan menjadi terbalik setelah menikah, sholat jadi sering telat, puasa sunah sudah jarang dilakukan, tilawah hampir tidak pernah lagi apalagi bangun tengan malam untuk tahajud.

Semuanya dilakukan diluar kesadaran kita, karena cinta kita kepada mahkluk lebih besar dari pada Sang pencipta makhluk. Mungkin bagi seorang istri kesibukan seharian bekerja atau mengurus anak bisa dijadikan excuse untuk sholat tidak tepat waktu, untuk tidak tilawah dan meninggalkan tahajud. Toh mengurus anak, suami dan rumah tangga juga merupakan ibadah.
Begitu juga bagi suami, excuse kesibukannya dalam bekerja untuk memberi nafkah anak dan istri telah membuat dia lupa untuk sholat berjama’ah, tahajud, tilawah dan bahkan peran sebagai qowwam yang harusnya dia lakukan untuk membimbing keluarganya telah terlupakan.

Tak jarang pula yang beranggapan bahwa “hubungan” suami-istri, sudah cukup memberikan nilai ibadah bagi mereka. Dengan kata lain jika ada aktifitas ibadah yang lebih ringan untuk dikerjakan kenapa harus mencari yang berat atau susah untuk dilakukan seperti tahajud, tilawah atau sholat berjama’ah.

Gambaran diatas hanya sepenggal kisah dari kecintaan kita pada makhluk melalui ikatan pernikahan. Belum lagi kecintaan kita kepada anak setelah mereka kita lahirkan. Bisa jadi kita bisa lebih jauh lagi dari Sang pemilik cinta karena cinta kita kepada anak.

Saya ingat nasehat Aa Gym dalam ceramahnya, “hati-hati jika mencintai makhluk, jangan sampai karena hadirnya makhluk cintamu kepada Sang pencipta makhluk menjadi berkurang, karena suatu saat nanti makhluk yang kamu cintai itu bisa saja diambil dari kamu”

Jadi, bagaimanakah kabar cinta Anda hari ini???
Mudah-mudahan cinta yang kita miliki membuat kita semakin cinta kepada Sang pemilik cinta bukan malah sebaliknya.

Iklan

2 Komentar

  1. sy smpai skrg blm bisa memahami ttg arti cinta sejati…
    Apakah cinta sejati itu yg dlm situasi kondisi apapun tak pernah luntur..??
    Tapi mengapa cinta akan berkurang seirting dengan perjalanan waktu…
    contoh…dlu sbelum kta menikah alangkah cinta dan sayangnya kita kpd ortu yg seolah tak mau pisah satu detikpun, tapi bgmn dg skrg stelah punya istri dan tinggal jauh dg ortu…?
    contoh ke 2, dlu bgaimana kasih sayang kita kpda istri di waktu pacaran sampai saat2 di barunya pernikahan….trus sekarang bagaimana sekarang setelah ada anak…?
    contoh ke 3, bgamna dlu sayangnya kita kpd anak diwaktu msh lucu2 nya….trus bagaimna dg sekarang setelah besar2 dan bisa membuat keputusan sendiri..?
    Sudah barang tentu cinta kasih sayang itu masih ada… tapi kadarnya dah berkurang.. trus dimanakah cinta sejati itu…??
    Barangkali baru pas jawabannya jika semua itu kembali kpd yg mempunyai sifat “Yang maha Pengasih da Maha Penyayang…”
    Beliaulah yang benar2 mempunyai cinta sejati..berupa rohmat dan Hidayah thd umatnya
    Ya Rahman..Ya Rachim…….smga kta smua sll dlm lindunganNya ..demi memelihara cinta kasih sayang yg sedikit dan rapuh ini…..aminn.

    • teambulls

      Betul sekali …
      Cinta sejati nan tulus tanpa tiada imbalan dan minta imbalan adakah Cinta sang Khaliq….Allah swt….
      Akang orbitkan itu tulisan karena akang belum rasakan cinta tulus dan tanpa imbalan dari seorang makhluqpun…..
      Semua mesti ada imbal baliknya….
      Sedang cinta Allah….semuanya di bagi rata….dan akan diganjar sesuai amal perbuatanya…
      hmmmmm…..Akang sedih lo perhatikan dunia ini…
      Penuh Cinta…tapi cinta PALSU…semu belaka…penuh Fatamorgana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: