TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

AKANKAH INI PENGULANGAN KEDUNG OMBO DI JATIGEDE……???

Akang berbagi cerita ini karena Akang mengunjungi Waduk tersebut tahun 1993. Dimana waktu itu Waduk tsb masih baru. Akang banyak tanya sini situ……Sampai akhirnya Akang bengong karena cerita Jatigede ini mirip dengan Waduk tsb diatas. Tanpa ada maksud Akang mendiskreditkan bebagai pihak, namun ini hanya lah suatu cerita yang mesti jadi perenungan kita semua.

Proyek Bendungan Jatigede berlokasi di Jawa Barat tepatnya di daerah Sumedang dan telah tertunda selama 44 tahun dari perencanaannya pada tahun 1963. Pembangunan proyek ini akan menenggelamkan 5 kecamatan dan 30 desa, menggusur sebanyak 70.000 jiwa penduduknya, menenggelamkan areal seluas 6.783 ha dengan 1200 ha hutan milik Perhutani, dan puluhan situs sejarah ikut tersapu.

Dengan hilangnya 3.200 ha, lahan subur yang termasuk di dalamnya adalah pertanian Sumedang yang akan kehilangan 80.000 ton padi per tahun. Selain itu, bahaya proyek ini disebabkan letak pembangunannya di atas daerah rawan gempa dengan adanya struktur patahan yang telah menyebabkan gempa pada tahun 1912 dan 1990 akibat pergeseran zona sesar dalam. Harus dijadikan pertimbangan pula fakta bahwa kondisi DAS Cimanuk yang akan dibendung telah mengalami kerusakan sebesar 47%.

Bendungan di Dunia

Proyek Jatigede akan menambah satu terhadap 4500 bendungan yang telah tersebar di seluruh dunia, dengan puncak pembangunan besar-besaran terjadi pada tahun 1980 dan menurun drastis setelah tahun 1990. Hal ini terjadi karena bendungan mulai terlihat bukan merupakan solusi, melainkan penundaan masalah dengan resiko yang jauh lebih besar, bendungan bukan solusi.

Pembahasan permasalah bendungan di seluruh dunia banyak merujuk kepada WCD (World Comission on Dam) sebagai komisi dunia yang meneliti bendungan. Hasil evaluasi dam dengan pengambilan sampel di seluruh dunia menunjukkan fakta sebagai berikut:

–          Hanya 50% (n=99) bendungan sampel di seluruh dunia yang selesai tepat waktu,

–          Hal tersebut tentu saja berhubungan erat dengan membengkaknya anggaran proyek hingga mencapai 56% (n=80) melebihi anggaran awal

–          Bendungan dengan tujuan irigasi sebanyak 50% (n=52) tidak mampu memenuhi target jangkauan irigasinya

–          Bendungan dengan tujuan PLTA sebanyak 54 % proyek tidak menghasilkan output yang ditargetkan

–          Bendungan dengan tujuan sebagai penyimpan air sebanyak 70% gagal memenuhi suplai air yang ditargetkan. Bahkan ditemukan bahwa semakin kecil area reservoir semakin tinggi tingkat keberhasilannya untuk memenuhi target penyuplaian air. Hal ini menunjukkan bendungan untuk tujuan ini seringkali dibangun berlebihan dan mubazir.

–          60% mitigasi yang dilakukan untuk menanggulangi dampak dam tidak berhasil sehingga kerusakan terus berlangsung.

–          Jumlah masyarakat yang dipindahkan selalalu lebih besar dari yang diperkirakan bahkan mencapai 44% lebih banyak. Dan dari jumlah yang akan dipindahkan sebanyak 1% harus pindah dengan biaya sendiri karna tidak mendapatkan biaya translokasi.

–          Sebanyak 70% pembuatan kesepakatan-kesepakatan menyangkut kehidupan penduduk lokal tidak melibatkan penduduk lokal tersebut.

–          Pembangunan bendungan multipurpose (seperti bendungan Jatigede) umumnya terlambat selesai dan memakan biaya yang jauh lebih besar dari anggaran awal dibandingkan pembangunan bendungan single purpose.

Selain hasil penelitian WCD, IRN (Internatioal Rivers Network) juga meneliti mengenai kontribusi dam dalam pemanasan global. Pembangunan bendungan-bendungan pembangkit listrik di Amazon menyebabkan pelepasan gas rumah kaca berupa methan dan karbondioksida dengan implikasi hingga 45 kali lipat dibandingkan pelepasan akibat pembangkit listrik menggunakan gas alam. Hal ini terjadi karena pembanjiran kawasan dengan seluruh bahan organik seperti, hutan, kebun, bangunan kayu, tanaman dan lain sebagainya menyebabkan pembusukan berlangsung secara anaerob dan menghasilkan gas methan dan karbondioksida dalam jumlah yang besar. Ketika turbin pembangkit listrik berputar dan mengaduk sebagian air, gas tersebut akan terlepas ke udara dan menghasilkan efek rumah kaca.

Bendungan di Indonesia

Sejarah perkembangan bendungan di Indonesia tidak terdata dengan baik atau setidaknya informasinya tidak dapat diakses dengan mudah. Evaluasi performa bendungan selama ini tidak pernah dilakukan sehingga sulit melihat apakah bendungan di Indonesia berhasil memenuhi tujuan pembuatannya. Tetapi sebagai gambaran hasil evaluasi WCD dan IRN dapat kita jadikan gambaran acuan permasalahan bendungan.

Salah satu cerita besar masalah yang menyertai pembangunan bendungan terjadi di Bendungan Kedungombo yang dibiayai oleh World Bank. Para penduduk lokal yang dipindahkan dari tanahnya harus mengalami perubahan dramatis dari kondisi mampu bertahan hidup dengan tanah garapannya yang subur ke tanah yang sama sekali tidak dapat ditanami. Salah satu solusi yang dikeluarkan adalah memperbolehkan penduduk kembali ke bendungan dan memelihara ikan dalam karamaba. Bendungan sebagai ekosistem perairan yang tertutup memungkinkan penyakit tersebar dengan cepat dan mengalami perbanyakan dalam waktu yang singkat.

Hal ini terjadi di Kedungombo dan menyebabkan petani tidak dapat memlihara ikan. Sampai saat ini, sudah 4 tahun berlalu dan tidak ada yang dapat dilakukan. Bayangkan selama 4 tahun petani tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Sudah selama itu pula generasi sekolah di sana tidak dapat meneruskan pendidikannya. Masalah bendungan terus berlanjut dan meluas, dan gambaran nyata bahwa bendungan dapat menyebabkan masalah sosial sebesar hilangnya satu generasi berpotensi.

Pemerintah harus memperhatikan semua fakta sejarah bendungan dengan serius dan memperhitungkan apakah memang bendungan solusinya. Bila solusi atas kekeringan, kebnjiran, suplai air irigasi, dan tenaga listrik yang dicari maka pemerintah harus membuka alternatif solusi selain bendungan yang telah terbukti tidak efektif sebagai jawaban.

Deretan daftar buruknya performa bendungan tersebut hanya sebagian. Tetapi, seharusnya cukup untuk membuat kita mempertanyakan efektivitas dan efisiensi bendungan sebagai jawaban. Bila cara yang sama telah dilakukan ribuan kali dan masih juga tidak efisien di seluruh dunia, apa alasan proyek Jatigede akan menjadi berbeda.

Iklan

9 Komentar

  1. pembangunan apapun sll membawa dampak dampak positip maupun negatipnya, ttu hal ini sudah diperhitungkan oleh badan survey terkait…
    sekarang tinggal pelaksana drpd proyek itu sndiri apakah bisa berlaku arif sesuai aturan, yg tentunya jangan sampai merugikan salah satu pihak…dlm hal ini rakyat sbg obyek yg hrs dimamkmurkan hrs benar2 merasakan hasil daripada pembangunan itu bukannya sebaliknya…..

    • teambulls

      Naaahhh…itulah yang Akang Maksud…PELAKSANA nya……????
      Bgaimana dengan Mereka ???
      Apa mereka ju2r…atau hanya karena gengsi karena ini mega proyek yang tertunda ???
      Kalau Mas sudah liat kedung ombo…terus bandingkan sekarang dengan jatigede ??? MIRIP=
      Kalo mas mau survey ke jatigede Akang tunggu nih….!!!

  2. linda ratnaningsih

    ass, wr,wb…. saya adalah salah satu anak dari keturunan sumedang, lahir dan besar di jakarta, sekarang kerja dan menetap di cilegon. Keluarga besar saya adalah yang termasuk dalam ” korban ” proyek bendungan jati gede. Sedih memang melihat tanah yang begitu subur yang telah memberikan begitu banyak manfaat bagi banyak rakyat harus dikorbankan hanya untuk suatu proyek ambisius semata. Keluarga besar saya yang dulunya hidup berdampingan sekarangan ini harus hidup terpencar2.

    • Team_Bulls

      Salam Tandang Nyandang Sahabat Akang yang ada di puseur dayeuh….
      Betul sekali…mestinya pemarintah mengkaji manfaat & mudharatnya banyak mana ??? baru bertindak…
      Salam wat semua keluarga di Jakarta dari orang Jatigede….

  3. Iyos

    Ass. Wr. Wb. Saya lahir di Sumedang, sekarang menetap di Tangsel, sedih juga Tanah leluhur bade di keem, hmm, situs-situs karuhun tinggal nama, ganti rugi yg tidak lancar sampai sekarang. kamana ya ngaduk, semoga ini akhir dari penderitaan dari pengorban wargi Sumedang. Amien. Wass

    • Team_Bulls

      Wa ‘alaikum salam wrb…
      Sami pribados ge ngiring sedih…….mugia sadayana dipasihan kasabaran lan kenging hasil tina buah kasabaran eta…
      Amiiiinnn…….!!!

  4. Mari kita kibarkan bendera setengah tiang untuk mengenang tragedi “genosida psikis lahir batin”. 46 tahun sudah kami anak – anak Korban Jatigede tidak memilikj kepastian hidup! Bertahun – tahun hidup di bawah lampu minyak yang mengeluarkan asap hitam menusuk hidung. Tentu ini terjadi dimasa kemerdekaan (katanya!). Hari – hari dilalui dengan penuh keputus asaan. Jangan tanya air mata semuanya telah lama habis menyatu dengan desir air Sungai Cimanuk. Sawah dan ladang kami tak ubanya seperti batang – batang rokok keretek yang harganya sama. (Bayangkan Rp. 500,- / Bata atau Rp. 500,- / 14 meter persegi. pembayaran ganti rugi 1984 /1986) Sebuah REZIM diktaktor Orde Baru telah membumi hanguskan Semangat Perjuangan dan kini orang tua kami telah terbujur kaku ditanah kelahirannya sendiri sebagai mayat yang tak lagi memiliki air mata! Dan tentu siapa yang berani berteriak OTOMATIS dicapa sebagai PKI! lalu siapa sesungguhnya PKI? dan sampai saat ini kepastian tentang Penyelesaian Dampak Sosiual Jatigede masih tidak menentu. Entah sampai kapan….. dan tentunya demi kepentingan Bangsa Asing dan Investor tentu Rakyat Jatigede HARUS DIKORBANKAN! Kalaulah PEMERINTAH MASIH PUNYA HATI NURANI,TOLONG SELESAIKAN DAMPAK SOSIAL JATIGEDE SEEECEEEPAAAATNYAAAAA…!!!!!!!

  5. asep kanzen

    Kang, punten yeuh kumawantun. Abdi pituin urang sumedang ngumbara di lembur deungeun bade nyutat ah sakedik kana seratan nu parantos diserat. Hatur nuhun

    • Team_Bulls

      Mangga…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: