TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

PERMAINAN ITU BERNAMA

Hidup adalah permainan yang memaksa siapapun yang terlempar ke
dalamnya untuk ikut bermain hingga babak yang mesti dilakoninya usai.
Dalam hidup, masing-masing individu memiliki permainannya sendiri,
seperti halnya Eliot Goodman yang menjalani hidup layaknya filosofi
permainan golf. Permainan dari masing-masing individu, satu sama lain
terhubung dalam sebuah arena permainan yang lebih besar, yaitu Sang
Kehidupan itu sendiri. Inilah yang membuat Elliot kemudian mesti
bertanding golf melawan Sang Kehidupan yang mengirimkan 18 wakilnya.

salinan kisah novel “Match Made in Heaven” ini berawal saat hidup
Elliot berada di ambang ajal akibat serangan jantung. Saat itu Tuhan
menghampiri Elliot untuk memberinya kesempatan tetap hidup.
Syaratnya, Elliot harus mampu mengalahkan Tuhan dalam pertandingan
golf delapan belas lubang. Pada kedelapan belas lubang itu, Elliot
bukan berhadapan langsung dengan Tuhan, melainkan para wakilnya.
Berturut-turut Elliot mesti menghadapi: Leonardo da Vinci, William
Claude Dukenfield, Musa, John Lennon, Sigmund Freud, Edgar Allan Poe,
Socrates, Pablo Picasso, Abraham Lincoln, Ludwig Von Beethoven,
William Shakespeare, George Herman Ruth Jr., Christoforus Colombus,
Mahatma Gandhi dan William Benjamin Hogan.

Pertandingan demi pertandingan bukan sekedar `permainan golf’
melainkan juga refleksi melalui interaksi Elliot dengan karakter demi
karakter ke-18 lawannya. Tiap lawan memberi Elliot peristiwa dan
pandangan baru yang mengagumkan untuk menjadi bekal Elliot dalam
melanjutkan hidupnya yang sudah di ambang usai itu. Kurang lebih
begitulah gambaran kisah dalam novel “Match Made in Heaven” karya Bob
Mitchell yang diterbitkan oleh Penerbit Ufuk ini. Novel ini
menyuguhkan kisah klasik pencarian manusia akan hakikat hidupnya dan
pemahamannya atas hikmah tersembunyi yang dianugerahkan Tuhan di
balik peristiwa-peristiwa kehidupan. Lewat tutur kata mengalir dan
isi yang sarat makna, pembaca akan terbawa begitu saja pada pemahaman
baru tanpa merasa telah membaca sesuatu yang “berat”.

Tokoh-tokoh yang hidup dalam diri
Teori-teori psikologi perkembangan, telah banyak menjelaskan
bagaimana individu belajar sesuatu dari sosok tokoh yang disukainya.
Hasil belajar ini kemudian menjadi bekal bagi individu untuk
menjalani `permainan’ kehidupannya. Di titik inilah tokoh-tokoh itu
bukan hanya berpengaruh tetapi juga hidup dalam `Diri’
individu. `Diri’ atau `Self’ dengan demikian merupakan persilangan
dari karakter sejumlah tokoh. Namun pada titik lain, individu mesti
menghadapi pula kenyataan bahwa hidup adalah soal seberapa
otentik `Diri’ memainkan peran.

Otentisitas ini pula yang membuat karakter dari orang-orang
tertentu tak pernah mati meski jasad mereka tak ada lagi di dunia.
Karakter mereka tetap hidup dan menjadi spirit bagi banyak orang,
jauh melampaui jamannya. Pesan ini dapat terbaca jelas pada scene
ketika Elliot bertanding melawan Colombus. Tersirat pada kalimat yang
dikutip dari makam Colombus: “History knows of no man who ever like
did the like”. Sejarah (hanya mau) tahu bahwa tak ada orang yang
menjalani hidup (untuk) menyerupai orang lain. Ini menunjukkan bahwa
hanya mereka yang benar-benar berbeda dan sadar akan keberbedaannya,
yang mampu keluar dari kerumunan untuk kemudian tercatat dalam
sejarah. Sisanya, yang terjebak dalam kerumunan, akan hilang seiring
usainya `permainan’ hidup mereka.

Martin Heidegger pernah mengemukakan istilah Dasein dan das man.
Menurut Heidegger, kata “manusia” atau das man hanyalah merujuk pada
spesies. Artinya, tak lebih dari sebutan untuk menggambarkan suatu
kerumunan mahkluk yang dianggap sejenis. Dalam kerumunan sejenis,
nama demi nama melenyap. Tak ada otentisitas di situ. Heidegger lalu
memilih istilah yang dirasa tepat untuk menggambarkan otentisitas
manusia, yaitu Dasein, yang kurang lebih artinya:”Yang- ada-di-
sana”. `Ada’ manusia dalam Dasein adalah `Ada’ dalam otentisitas
masing-masing nama yang di sana. Di sana mana? Di sana pada tempat
masing-masing nama mengalami keterlemparan dalam peran pada permainan
hidupnya masing-masing. Ada nama-nama seperti: Ratih, Goenardjoadi,
Sisca, dan seterusnya.

Diri, Tuhan dan Kehidupan
Antara memilih menjadi otentik atau melenyap dalam kerumunan itulah
hidup manusia ibarat permainan yang di dalamnya terdapat misteri dan
paradoks atas hidup itu sendiri. Di sinilah baru kita bisa bicara
lebih jauh tentang Tuhan. Carl Gustav Jung, psikoanalitik asal Swiss,
pernah berkata: “Dipanggil atau tidak dipanggil, Tuhan hadir”.
Ungkapan itu menyiratkan, bukan manusia yang hadir mengikuti
permainan Tuhan, melainkan Tuhan yang hadir mengikuti permainan kita
masing-masing.

Kenapa Tuhan memilih golf untuk pertandingan melawan Elliot?
Alasannya bukan terletak pada permainan golf-nya, melainkan karena
Elliot menyukai permainan golf. Bahkan ke-18 tokoh yang dipilih Tuhan
untuk mewakili diriNya melawan Elliot, semua adalah tokoh-tokoh yang
disukai Elliot. Setelah Elliot melawan ke-18 tokoh wakil Tuhan
tersebut, ternyata skor pertandingan masih berakhir imbang sehingga
diperlukan babak tambahan. Di babak tambahan ini, Elliot bukan lagi
melawan tokoh terkenal, melainkan orang biasa. Meski demikian, di
satu sisi Elliot merasa sudah mengenal akrab orang yang satu ini,
sementara di sisi lain, ingatan Elliot tak pernah mampu menjelaskan
kapan tepatnya ia mengenalnya. Orang itu hanya mengatakan bahwa ia
akrab dipanggil “Dog”.

“Dog” ternyata kebalikan dari “God”. Tuhan hadir dalam sosok orang
biasa. Di babak tambahan ini Elliot kalah, namun Tuhan justru
memberinya kesempatan untuk tetap hidup. Alasannya, di saat kritis
hidupnya, Elliot memilih untuk tetap hidup dan mau berjuang untuk
pilihannya itu. Scene akhir buku ini memuat pesan bahwa hidup adalah
persoalan bagaimana manusia menentukan pilihan dan bertanggungjawab
atas pilihan tersebut.

 

Di sinilah letak otentisitas manusia.
Barangkali di titik ini kita perlu merenungkan kembali bahwa hidup
yang bertanggungjawab bukan dalam paradigma “Manusia berusaha, Tuhan
menentukan”, melainkan “Manusia menentukan, Tuhan mengusahakan” .

Dan, pertanyaan tajam dari kisah ini:

“Jika Tuhan sudah mengusahakan
begitu banyak untuk pilihan yang anda tentukan, sudahkah anda sendiri
bertanggungjawab atas pilihan tersebut?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: