TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

Sikap Nabi SAW Kepada Yahudi

Dulu ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, ada tiga kabilah Yahudi yaitu Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Di antara tabiat Yahudi adalah ingkar janji dan berkhianat. Rasulullah ingin selamat dari pengkhianatan mereka. Oleh karena itu beliau mengikat perjanjian dengan mereka. Perjanjian keamanan dan kerja sama. Hanya saja, begitu cepatnya mereka mengkhianati perjanjian ini.


Pertama: Pengkhianatan Bani Qainuqa’
Bani Qainuqa’ adalah kabilah Yahudi pertama yang mengkhianati perjanjian. Sebabnya adalah mereka mengacaukan keamanan. Mereka terang-terangan memusuhi kaum muslimin setelah kemenangan muslimin di Badr.

Maka Rasulullah mengumpulkan Bani Qainuqa’ di pasar mereka. Beliau berkata kepada mereka: “Wahai Yahudi, berislamlah, sebelum me­nimpa kalian apa yang menimpa Quraisy di Badr.”

Mereka menjawab: “Sesungguhnya di Badr engkau menghadapi orang-orang yang tidak pandai berperang. Seandainya engkau memerangi kami niscaya engkau akan mengetahui bahwa kamilah orang­-orang yang jantan.”

Dengannya mereka telah benar-benar menampakkan permusuhan kepada muslimin.

Kemudian pada tahun ke-2 H Rasulullah membawa pasukan menuju perkampungan mereka. Beliau mengepung mereka selama dua puluh lima hari. Sampai Allah melemparkan rasa takut yang sangat dahsyat ke dada-dada mereka. Maka akhirnya mereka mau tunduk. Mereka menerima ketetapan Rasulullah atas diri mereka. Rasulullah memerintahkan untuk mengusir mereka dari Madinah. Bani Qainuqa’ pun keluar ke Negeri Syam.
 

Kedua: Pengkhianatan Bani Nadhir

Suatu ketika, Rasulullah pergi menemui Bani Nadhir. Beliau meminta bantuan kepada mereka untuk membayar diyat (tebusan) bagi dua orang yang terbunuh. Dua orang itu dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh Dhomri. ‘Amr bin Umayyah tidak sengaja membunuh mereka.

Bani Nadhir berkata: “Kami akan menolongmu, wahai Abal Qasim (nama qunyah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam)”.

Kemudian mereka saling memerintahkan untuk membunuh Rasulullah dengan melemparkan batu ke atas kepala beliau. Ketika itu beliau sedang duduk. Beliau duduk di samping tembok sebuah rumah. Mereka hendak melempar batu dari atas rumah itu.
 

Maka Allah mengabarkan rencana jahat itu pada beliau. Sehingga beliau kembali ke Madinah. Kemudian beliau mengumpulkan pasukan musli­min. Lalu mereka berangkat ke tempat Bani Nadhir.

 

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-4 H. Bani Nadhir berlindung di benteng-benteng mereka. Tetapi Allah melemparkan rasa takut di dada-dada mereka. Maka akhirnya mereka mau tunduk. Mereka menyerah kepada ketetapan Rasulullah. Mereka meminta kepada Rasulullah agar mengijinkan mereka pergi dan membiarkan darah mereka. Serta membiarkan harta mereka yang bisa dibawa dengan unta.

Nabi meluluskan permintaan mereka.

 

Kemudian Bani Nadhir keluar dari Madinah. Setelah merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, mereka pergi

menuju Khaibar dan Syam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Hasyr:2, yang artinya:

“Dialah (Allah) yang mengeluarkan orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kalian tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat melindungi mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan rasa takut di hati mereka. Mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan rnereka sendiri dan dengan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah pelajaran dari hal ini wahai orang yang mempunyai pandangan.”

 

Ketiga: Pengkhianatan Bani Quraizhah

Bani Quraizhah juga berkhianat pada Nabi. Mereka bergabung menyerang muslimin dari belakang. Setelahnya perang Ahzab selesai, Allah memberi perintah kepada Rasulullah untuk berangkat menyerang Bani Quraizhah. Rasulullah bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau, “Tidak ada seorangpun yang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah. ”
Maka muslimin bergerak menuju Bani Quraizhah. Muslimin mengepung mereka selama dua puluh lima malam. Pengepungan itu menjadikan kaum muslimin sangat lelah. Kaum muslimin mengalami kesulitan. Namun kemudian Bani Quraizhah tunduk. Mereka mau mematuhi ketetapan Rasulullah.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-5 H.Kemudian Kabilah Aus meminta pada Rasulullah untuk meringankan hukuman bagi Bani Quraizhah.
Maka Nabi berkata: “Wahai sekalian kabilah Aus, apakah kalian ridha apabila salah seorang dari kalian yang memutuskan hukuman?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda lagi: “Keputusannya di tangan Sa’ad bin Mu’adz.”
Kemudian Sa’ad bin Mu’adz didatangkan. Ia tengah terluka, terkena panah dalam perang Al Ahzab. Ia berkata: “Aku memutuskan:

1. Agar kaum laki-laki Bani Quraizhah dibunuh.

2. Agar harta mereka dibagi-bagikan.

3. Agar anak-anak dan wanitanya ditawan.”

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh engkau telah membuat keputusan, dengan keputusan Allah dari atas langit yang ketujuh.”

Setelah peristiwa itu maka tidak ada kabilah Yahudi lagi di Madinah.

 

Sumber: Muqarrar Al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah-Syu’bah Ta’lim Al Lughah Al Arabiyyah Al Jami’ah Al Islamiyyah, Madinah.

2 Komentar

  1. adi isa

    sejarah yang tidak boleh dilupa.

    main juga disini :

    http://feriadiisander.wordpress.com

  2. zacky

    apa sih isa , so coment wakakakaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: