TANDANG………. !!! NYANDANG KAHAYANG

JATIGEDE….oh….JATIGEDE….

cinambo

Inilah tempat proyek yang akan dijadikan Bendungan Jatigede. Terletak di Desa Jatigede Kec. Jatigede Kab.Sumedang Jawa Barat. Proyek ini telah berlarut-larut hingga memberikan dampak sosial yang cukup serius bagi warga di daerah Jatigede. Dampak itu terjadi pada berbagai bidang baik sosial, ekonomi maupun psikologis penduduk Jatigede.

Banyak sekali artikel mengenai Jatigede yang mengulas baik dari sejarah, rencana proyek, penolakan warga, pembayaran serta artikel lainnya. Selain itu issue mengenai peninggalan nenek moyang Sumedang larang yang berada dikawasan Jatigede yang akan menjadi lokasi waduk.

Artikel-artikel mengenai Jatigede dapat anda cari melalui internet. Salah satu artikel saya akan sertakan pada halaman ini. Maka disini saya akan menampilkan foto terbaru lokasi Jatigede.Salah satu artikelnya adalah :

jatigede

Kontroversi Bendungan Jatigede
Oleh H. USEP ROMLI H.M.

Dua puluh tahun sudah rencana pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, terkatung-katung. Padahal persiapannya telah berlangsung sejak tahun 1983. Tahun 1984-1985 mulai terselenggara ganti rugi. Para pemilik tanah di tiga kecamatan (Wado, Cadasngampar, Darmaraja) yang akan terendam jika kelak bendungan sudah terwujud, menerima sejumlah uang dan berangkat transmigrasi ke luar Jawa. Hanya sebagian kecil yang masih bertahan, dan sebagian lagi memilih pindah ke desa-desa lain masih di Kabupaten Sumedang.
Jalan baru antara Tolengas-Jatigede telah terbentang, luas dan beraspal mulus. Alat-alat berat, tenaga teknisi, pekerja lapangan dan sebagainya, berseliweran tiap saat. Suasana sepi daerah terpencil yang berhutan lebat itu, berubah menjadi sibuk dan ramai. Situs Marongge, yang dipercaya sebagai pusat “ilmu pelet” (pekasihan) makin banyak dikunjungi para peziarah, karena letaknya persis di pinggir jalan baru Tolengas-Jatigede yang mirip tol itu.
Tapi entah mengapa, bendungan yang ditunggu-tunggu tak pernah muncul, hingga bertahun-tahun, bahkan hingga dua puluh tahun! Jalan “tol” Tolengas-Jatigede telah kembali rusak. Lebih rusak daripada sebelum diperluas dan dipermulus. Bangunan-bangunan infrastruktur di sekitar bakal bendungan pun terbuang begitu saja. Mirip rumah hantu, sebelum roboh sendiri akibat tidak terurus. Para pemilik tanah yang sudah menerima ganti rugi, dan sudah bertransmigrasi, banyak yang pulang kampung.
Kabar tentang bendungan Jatigede simpang siur antara batal dan tidak. Semua samar dan penuh tanda tanya. Yang menjadi korban langsung adalah daerah setempat dan para penghuninya. Terkucilkan dari derap laju pembangunan fisik rutin. Tak ada aliran “listrik masuk desa” (LMD), sebab terhambat oleh rencana pembangunan bendungan. Tak ada perbaikan jalan dan jembatan, karena akan sia-sia jika nanti bendungan muncul. Salah satu contoh yang paling nyata adalah Kampung Jemah, Desa Jatigede, Kecamatan Cadasngampar. Muram dan kusam, dengan rumah-rumah tua dan penghuninya yang terombang-ambing dalam penantian. Jika bendungan Jatigede selesai, Kampung Jemah merupakan kawasan yang paling dulu tergenangi air.
Pemerintah juga ikut menanggung beban derita. Berapa juta dana yang sudah dikeluarkan untuk ganti rugi tanah masyarakat? Hingga tahun 1990, masih banyak plang terpancang, bertuliskan “Tanah Milik Negara”, sebagai pertanda telah diberikan ganti rugi dan kepemilikannya beralih. Sekarang semua tanda itu telah hilang, dan tak sedikit tanah yang digarap lagi oleh bekas pemiliknya dulu.
Awal tahun 2000, isu Jatigede kembali menghangat. Konon pemerintah telah siap untuk melanjutkan rencana yang sudah terbengkelai dua puluh tahunan itu. Kesibukan-kesibukan mulai tampak lagi. Terutama dalam hal saling lempar pernyataan. Di satu pihak ada yang optimis, pembangunan bendungan Jatigede akan segera dilaksanakan karena berbagai kebutuhan mendesak. Antara lain pencegahan banjir di wilayah Pantai Utara, penyediaan air untuk irigasi dan bisnis, dan sebagainya. Di pihak lain, beredar keraguan yang berkaitan dengan kemampuan anggaran, manfaat jangka panjang, dugaan korupsi dan kolusi dalam proses ganti rugi, dan sebagainya. Termasuk kekhawatiran mengenai kerusakan lingkungan yang akan berdampak luas terhadap aspek ekologi dan budaya setempat.
Pendapat terakhir ini, diutarakan oleh Dewan Pengamat Kelestarian Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), yang terjun ke lokasi Jatigede, Rabu (10/3).Waduk Jatigede, yang akan membendung aliran air Sungai Cimanuk di Jatigede, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang, memang selalu mengundang kontroversi. Bukan sekarang saja. Tapi sejak zaman kolonial dulu. Berdasarkan penuturan penduduk setempat, membendung Sungai Cimanuk sudah direncanakan pada akhir abad 19, di tiga tempat. Yaitu Bakom, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Beureumbeungeut Cipasang, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, dan Jatigede. Beureumbeungeut ditangguhkan karena mendapat penolakan dari para pengusaha perkebunan Ganjartemu, sebuah perkebunan teh dan sayuran terbesar di perbatasan Garut-Sumedang hingga tahun 1920-an. Sebab jika Sungai Cimanuk di Beureumbeungeut dibendung, ribuan hektare tanaman teh dan sayuran yang amat subur dan produktif akan lenyap terkena genangan. Pembatalan Beureumbeungeut berarti pembatalan Bakom yang akan menjadi “filter” bagi pasokan air ke bendungan Beureumbeungeut. Akibat selanjutnya, pemerintah kolonial terpaksa menangguhkan Jatigede, sebab tanpa Bakom dan Beureumbeungeut, peran dan fungsi Waduk Jatigede tidak akan optimal, mengingat tak ada “filter” berupa dua bendungan lebih kecil di sebelah hulu.
Penduduk pedesaan Sumedang menyebut kegagalan dan penangguhan pembuatan bendungan Beureumbeungeut dan Bakom, sebagai tacan nincak kana uga (belum tiba saatnya yang tepat sesuai isyarat ramalan). Berdasarkan folklore (cerita rakyat) setempat, yang dicatat pada kegiatan pengumpulan folklore “Tahun Buku Internasional Unesco” 1972, uga mengenai bendungan di Sungai Cimanuk berbunyi: Beureumbeungeut disieuh-sieuh, Jatigede diengke-engke, nunggu gugur kana siwur. Artinya, Beureumbeungeut ditolak mentah-mentah oleh kalangan pengusaha perkebunan yang takut kehilangan untung, sehingga Jatigede dibiarkan berlama-lama dalam ketidakpastian, seraya menunggu masuknya air curahan hujan lebat ke dalam gayung. Yang mengandung arti, bersih dari gejala dan kecenderungan projek (Jatigede) dari korupsi dan kolusi. Dalam makna lebih luas, bendungan di Sungai Cimanuk, baik Beureumbeungeut maupun Jatigede akan terwujud kelak jika semua pihak sudah memiliki kejujuran dan ketulusan.Revitalisasi sungai Bagaimana pun juga, aroma korupsi (sempat) merebak di seputar rencana.

5 Komentar

  1. eko jp

    masyarakat jadi pusing nungguin kepastian….
    kalo mau jadi beresin dulu masalah pembayarannya….

    • Team_Bulls

      betu…betul….betuuull….
      semoga ini proyek ga banyak merugikan yaaa……

  2. dewa

    hati2 bagi para anggota P2T. dan pemkab sumedang…semua dugaan korupsi di proyek ini sudah masuk agenda KPK. dan juga sudah di bahas di komisi 7 DPRRI

    • Team_Bulls

      Semoga yang benar itu menjadi benar……!!!
      dan yang salah itu mendapat ganjaran setimpal…..!!!

  3. Doa kuring…mugia ALLAH SWT MERUNTUH KAN….MELULUH LANTAKAN PROYEKNTSB !!!……SEMOGA BARIBIS BERGERAK TERUS….MEMBELAH DAM…..SEBEBELUM DI GENANGI …AMMIEN….KUNFAAYAAKUUUNN….ALLAAHU AKBAR !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: